Kamis, 14 Mei 2015

Prasasti Dadak

Tidak ada bangunan semegah piramid disini, hanya punden berundak yang mulai berlumut. 
Tidak ada kota berbenteng tebal layaknya bizantium disini, hanya ada parit tanah yang sederhana.
Tidak ada legenda sebesar mahabrata, hercules, dan ramayana disini, hanya ada sipahit lidah dan radin jambat yang menjadi dongeng pengantar tidur. 
Tapi kami punya aksara dan bahasa sendiri untuk bersanding dengan peradaban mesir, mesopotamia, harappa dan cina sebagai bangsa yang maju dan beradab.

Transkip Prasasti Dadak akhir abad ke 14
Ditulis di media batu menggunakan Aksara Lampung
Koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung



Prasasti Dadak ditemukan di Dusun Dadak Desa Tebing Kecamatan Perwakilan Melintang Lampung Timur pada tahun 1994. Prasasti ditulis dalam 14 baris tulisan, terdapat pula tulisan-tulisan singkat dari gambar-gambar yang digoreskan memenuhi seluruh permukaan batu. bentuk seperti balok berukuran 42cm x 11cm x 9cm.




Rajo (ajo) Arya Purbaya
Penasehat Gamolan Institute

Selasa, 12 Mei 2015

Perjanjian Dalung Kuripan

Prasasti dalung kuripan yang  diberi nama demikian karena prasasti ini ditulis pada media dalung yaitu tembaga persegi empat yang ditemukan di Desa Kuripan Lampung Selatan.
Prasasti ini menyebutkan dua orang pemimpin yaitu Pangeran Sabakingking dan Ratu Darah Putih.
Keratuan Darah Putih diduga sebagai pusat penyebaran agama Islam.

Prasasti Dalung Kuripan

Untuk membangun syiar Islam serta melakukan dakwah, maka antara Ratu Darah Putih dan Pangeran Sabakingking atau Maulana Hasanuddin mengadakan mufakat. Kata sepakat:
 

Perjanjian Dalung Kuripan

Dalam perjanjian ini disebutkan :


"Ratu Darah Putih linggih dateng Lampung. Maka dateng Pangeran Sabakingking, maka mufakat. 
Maka wiraos sapa kang  tua sapa kang anom kita iki. Maka pepatutan angadu wong anyata kakak tua kelayan anom. Maka mati wong Lampung dingin. Maka mati mulih wong Banten ing buri ngongkon ning ngadu dateng pugung ing djero luang. Maka nyata anom Ratu Darah Putih. Andika kang tua, kaula kang anom, andika ing Banten kaula ing Lampung. Maka lami-lami Ratu Darah Putih iku ing Banten malnya kul Lampung. Anjeneng aken Pangeran Sabakingking ngadekaken Ratu. Maka jenengipun Susunan Sabakingking. Maka Ratu Darah Putih angaturaken Sawunggaling. Maka mulih ing Lampung........."


Lebih lanjut Perjanjian Dalung Kuripan itu mengatakan :


Wadon Banten lamun dipaksa dening wong Lampung dereng sukane, salerane, Lampung kena  upat-upat wadon Lampung lamun dipaksa wong Banten dereng sukane, salarane, atawa saenake bapakne, Banten kena upat-upat. Lampung ngongkon Banten keduk susuk, Lampung kena upat-
upat. Lamen ana musuh Banten, Banten pangerowa Lampung tutburi. Lamen ana musuh Lampung, Lampung manyerowa Banten tutburi. Sawossi janji Lampung ngalah kak Pejajaran, Dayuh kekuningan, Kandang besi, Kedawung, Kang uba haruan, Parun kujang. Kang anulis kang panji Pangeran Sabakingking wasta ratu mas lelom raji sengaji guling, wasta minak bay Taluk kang den
pangan ati ning kebo. Serat tetelu, ing Banten Dalung, Ing Lampung saksi Dalung Ing Maninting serat kencana. 


Sebagaimana dijelaskan dalam perjanjian, setelah masing-masing mengetahui mana yang tua dan siapa yang muda antara Ratu Darah Putih dengan Maulana Hasanuddin (Pangeran Sabakingking), di mana Maulana Hasanuddin lebih tua, maka kedua kakak beradik saling mufakat. 

Beberapa poin perjanjian itu adalah :
  • Pangeran Sabakingking berkedudukan di Banten, sementara Ratu Darah Putih berkedudukan di Lampung. 
  • Disepakati bahwa apabila ada wanita Banten yang akan di paksa dengan orang Lampung karena bukan atas kemauannya, maka Lampung akan di upat-upat; sebaliknya, bila wanita Lampung yang diperlakukan demikian, Banten yang akan di upat-upat.
  • Perjanjian Dalung Kuripan ada hal yang bersipat politik. Disebutkan, jika Banten berhadapan dengan musuhnya, Lampung akan membantu. Sebaliknya lagi, bila Lampung ada musuh, pihak Banten akan balik membantu. 
  • Dikarenakan musuh Banten waktu itu Pajajaran, berkat bala bantuan dari Lampung, Pajajaran dapat dikalahkan. Sebaliknya pula, saat Raden Intan menghadapi kolonial Hindia Belanda, Lampung dibantu pasukan dari Banten.
  • Ikatan ini semakin dipererat dengan memakan hati kerbau sebagai simbol keteguhan hati dan kejujuran karena jika kita melihat sapi maka yang terlihat adalah tidak suka mencari musuh tetapi kokoh dalam mempertahankan diri.

Persahabatan yang sudah berumur 400 tahun lebih inilah yang melahirkan sebuah perkampungan  suku Lampung yang akrab disebut Lampung Cikoneng atau Cikoneng, di Kecamatan Anyer, Kabupetan Cilegon, Propinsi Banten. Tepatnya di Jalan Raya Anyer kilometer 128-129. Di  Lampung berada di Kaliawi, Durian Payung, Gedung Pakuon, Kuripan dan Tanjung Gading adalah pemukiman penduduk Banten. 
Sampai sekarang masyarakat Lampung umumnya menyebut makam-makam kuno yang dikeramatkan sebagai makam kiai Banten. Dikedaton sebuah bukit memiliki sebutan Gunung Banten, karena ada sebuah makam kiai asal Banten di Lerengnya. Di Pagar Dewa di hulu tepi sungai Tulang Bawang ada makam kuno Kiai Banten yang dikeramatkan dan dianggap sebagai pusat Kerajaan Tulang Bawang yang menganut ajaran islam.


Novellia Yulistin Sanggem
Glr. Pn Mustika
Ketua Gamolan Institute Lampung




Senin, 11 Mei 2015

Bahasa dan Aksara Lampung

BAHASA LAMPUNG

Rumpun bahasa Lampung adalah sekelompok bahasa yang dipertuturkan oleh Ulun Lampung atau Jelema Lampung di Provinsi Lampung, selatan Palembang, selatan Bengkulu dan pantai barat Banten. Kelompok bahasa ini merupakan cabang tersendiri dalam rumpun bahasa Melayu Polinesia. 
Dr Van Royen mengklasifikasikan rumpun bahasa Lampung dalam dua subdialek, yaitu dialek Belalau atau dialek Api, dan dialek Abung atau dialek Nyow.

A. Dialek Belalau [Dialek Api], terbagi menjadi:
  1. Bahasa Lampung Logat Belalau dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomisili di Kabupaten Lampung Barat yaitu Kecamatan Balik Bukit, Batu Brak, Belalau, Suoh, Sukau, Ranau, Sekincau, Gedung Surian, Way Tenong dan Sumber Jaya. Kabupaten Lampung Selatan di Kecamatan Kalianda, Penengahan, Palas, Pedada, Katibung, Way Lima, Padangcermin, Kedondong dan Gedongtataan. Kabupaten Tanggamus di Kecamatan Kotaagung, Semaka, Talangpadang, Pagelaran, Pardasuka, Hulu Semuong, Cukuh Balaq dan Pulau Panggung. Kota Bandar Lampung di Teluk Betung Barat, Teluk Betung Selatan, Teluk Betung Utara, Panjang, Kemiling dan Raja Basa. Banten di di Cikoneng, Bojong, Salatuhur dan Tegal dalam Kecamatan Anyer, Serang.
  2. Bahasa Lampung Logat Krui dipertuturkan oleh Etnis Lampung di Pesisir Barat Lampung Barat yaitu Kecamatan Pesisir Tengah, Pesisir Utara, Pesisir Selatan, Karya Penggawa, Lemong, Bengkunat dan Ngaras.
  3. Bahasa Lampung Logat Way Kanan dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Way Kanan yakni di Kecamatan Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga dan Pakuan Ratu.
  4. Bahasa Lampung Logat Pubian dipertuturkan oleh Etnis Lampung yang berdomosili di Kabupaten Lampung Selatan yaitu di Natar, Gedung Tataan dan Tegineneng. Lampung Tengah di Kecamatan Pubian dan Kecamatan Padangratu. Kota Bandar Lampung Kecamatan Kedaton, Sukarame dan Tanjung Karang Barat.
  5. Bahasa Lampung Logat Sungkay dipertuturkan Etnis Lampung yang Berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Sungkay Selatan, Sungkai Utara dan Sungkay Jaya.
  6. Bahasa Lampung Logat Jelema Daya atau Logat Komering dipertuturkan oleh Masyarakat Etnis Lampung yang berada di Muara Dua, Martapura, Komring, Tanjung Raja dan Kayuagung di Provinsi Sumatera Selatan.

B. Dialek Abung [dialek Nyow], terbagi menjadi:
  1. Bahasa Lampung Logat Abung Dipertuturkan Etnis Lampung yang yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara meliputi Kecamatan Kotabumi, Abung Barat, Abung Timur dan Abung Selatan. Lampung Tengah di Kecamatan Gunung Sugih, Punggur, Terbanggi Besar, Seputih Raman, Seputih Banyak, Seputih Mataram dan Rumbia. Lampung Timur di Kecamatan Sukadana, Metro Kibang, Batanghari, Sekampung dan Way Jepara. Lampung Selatan meliputi tiyuh Muara Putih dan Nega Ratu. Kota Metro di Kecamatan Metro Raya dan Bantul. Kota Bandar Lampung meliputi kelurahan Labuhan Ratu, Gedung Meneng, Rajabasa, Jagabaya, Langkapura dan Segalamider.
  2. Bahasa Lampung Logat Melinting dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Lampung Timur di Kecamatan Labuhan Maringgai, Kecamatan Jabung, Kecamatan Pugung dan Kecamatan Way Jepara.
  3. Bahasa Lampung Logat Menggala Dipertuturkan Masyarakat Etnis Lampung yang bertempat tinggal di Kabupaten Tulang Bawang meliputi Kecamatan Menggala, Tulang Bawang Udik, Tulang Bawang Tengah, Gunung Terang dan Gedung Aji. 
AKSARA LAMPUNG
Huruf Lampung
(Kelabai Sukhat/Had Lampung)
Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam huruf Arab, dengan menggunakan tanda-tanda fathah pada baris atas dan tanda-tanda kasrah pada baris bawah, tetapi tidak menggunakan tanda dammah pada baris depan, melainkan menggunakan tanda di belakang, di mana masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.

Anak Huruf dan Tanda Baca
Had Lampung dipengaruhi dua unsur yaitu Aksara Pallawa dan Huruf Arab. Had Lampung memiliki bentuk kekerabatan dengan aksara Rencong Rencong, aksara Rejang Bengkulu, aksara Sunda dan aksara Lontara. Had Lampung terdiri dari huruf induk, anak huruf, anak huruf ganda dan gugus konsonan, juga terdapat lambang, angka dan tanda baca. Had Lampung disebut dengan istilah Kaganga ditulis dan dibaca dari kiri ke kanan dengan Huruf Induk berjumlah 20 buah.

Aksara Lampung telah mengalami perkembangan atau perubahan. Sebelumnya Had Lampung kuno jauh lebih kompleks, sehingga dilakukan penyempurnaan sampai yang dikenal sekarang. Sukhat Lampung atau Had Lampung yang diajarkan di sekolah sekarang adalah hasil dari penyempurnaan tersebut.
Angka Arab
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0
Angka Lampung
Diandra Natakembahang
Penasehat Gamolan Institute



Sabtu, 09 Mei 2015

Lampung Saksi Tertua Peradaban Maritim di Swarnadwipa

Kain Tampan Tradisonal Lampung
Motif Kapal
Sebelum Portugis masuk ke nusantara, Lampung sudah memiliki kapal yang mengarungi Samudera. Catatan Cina banyak mengemukakan bahwa sejak abad ke - 5 M kapal-kapal Tulang Bawang telah bersandar di Cina membawa 41 jenis barang dan kembali lagi membawa barang-barang dari cina berupa gerabah, sutra dan lain-lain.

Kain Tapis Muli
Motif Bintang
Dari ragam motif yang banyak terdapat dalam kain tampan dan pelepai, terdapat sketsa atau gambaran perahu-perahu pada zaman dahulu bertingkat 2, 3 dan bahkan 4. Gajah-gajah dan binatang-binatang yang di angkut telah menandakan pula besarnya ukuran kapal-kapal penjelajah samudera yang kita miliki. Bahkan gerabah Cina Dinasti Han (awal abad masehi) ditemukan si Tulang Bawang tepatnya di Benteng Sabut dan di Kampung/Tiuh Gunung Terang. Sedangkan berita cina tertua tentang Tulang Bawang berasal dari abad ke 5 M, dan semua catatan cina kuno menyatakan bahwa Lampung lah yang berlayar ke cina dengan perahu sendiri. 

Kain Tampan dan Pelepai menjadi perekam terbaik
peradaban Pesisir Asia Tenggara
di sampul buku Kajian Pesisir Asia Tenggara
yang ditulis oleh Andrian Vickers
Dalam buku "Kemaharajaan Maritim Sriwijaya" karangan O.W. Wolters yang banyak menggali sumber-sumber klasik cina disebutkan bahwa masyarakat Tulang Bawang dan nusantara lainnya berdagang membawa kapalnya sendiri, bahkan kapal-kapal terebut banyak ditumpangi oleh para peziarah cina yang mampir ke Sumatera beberapa bulan untuk mempelajari bahasa sanskerta baru meneruskan perjalan ke India.

Rajo (Ajo) Arya Purbaya
Penasehat Gamolan Institute






Manuskrip Kulit Kayu dari Tanggamus

Manuskrip dari kulit kayu dari Kota Agung, Tanggamus



Koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung


"Kalau kita perhatikan dengan seksama, sebenarnya peradaban orang Lampung agak tinggi, dengan alasan bahwa mereka selain memiliki bahasa sendiri, juga mereka memiliki aksara Lampung, Kesusastraan pun ada pada mereka."

Testimoni di atas adalah petikan dari surat ke-10 Mayor Weitzel (komandan pasukan Belanda dalam Perang Radin Intan II di Lampung) yang ditulisnya di Kunyayan, Tanggamus, Lampung pada 18 Oktober 1856.

Gambar diatas adalah manuskrip terbuat dari kulit kayu, bertuliskan aksara Jawi (arab melayu) dan aksara Lampung dengan menggunakan bahasa Arab dan Lampung. Naskah dipenuhi gambar rajah berisi tentang sifat-sifat Allah, memang (mantra), kekebalan, pemikat bujang gadis dan cara bercocok tanam. Dalam tradisi tulisan kuno Masyarakat Lampung selain dari kulit kayu Halim (Aquillaria malacensis), medianya juga berupa batu, lontar, bambu, tanduk, dan logam. Isinya biasanya tentang mantra, ilmu pengobatan, silsilah, perjanjian dll.


Narasumber :
Rajo (Ajo) Arya Purbaya
Penasehat Gamolan Institute

Jumat, 08 Mei 2015

Asal Muasal Orang Lampung

"Orang Lampung berasal dari Sekala Beghak" 
Pernyataan yang sering terlontar dalam setiap perbincangan mengenai asal usul orang Lampung.

Namun apakah benar semua leluhur Lampung berasal dari sekala beghak ?
lalu benarkah pepadun tertua berasal dari Pohon Melasa Kepampang (sejenis pohon nangka) ?

Untuk menjawab itu semua pertama-tama harus diketahui bahwa Bahasa Lampung baik Dialeg A maupun O merupakan rumpun bahasa dari Bangsa Proto-Austronesia. Bangsa Proto-Austronesia adalah bangsa petani dan pengarung samudera yang sejak 7000SM sampai dengan 3500SM telah bermigrasi dan menyebar ke seluruh wilayah pulau Sumatera (menurunkan tiap suku bangsa penutur Rumpun Bahasa Proto-Melayu) termasuk Lampung.
Hal ini dapat dilihat dan dibuktikan dengan banyaknya temuan peninggalan Arkeologi berupa Perkakas Batu Neolitikum (zaman batu baru) yang tersebar merata di seluruh wilayah Lampung, mulai dari utara-selatan sampai dengan timur-barat. ini mengindikasi bahwa setidaknya sejak 5000SM nenek moyang masyarakat Lampung Purba telah tersebar merata di wilayah Lampung.

Rumpun Proto-Austronesia menurunkan beberapa suku-suku tua di Indonesia, berbeda dengan Austro-Melanesia, Proto-Austronesia adalah bangsa penjelajah samudra. Di Indonesia pengelompokan mereka ke dalam bangsa Proto-Melayu. Yang berbeda beberapa ribu tahun SM dengan saudara mudanya yaitu Duetero Melayu yang membawa kebudayaan pertanian menetap di Indonesia. Sedangkan Proto Melayu menganut sistem pertanian berpindah tebas-bakar.

Berdasarkan penyebaran penggunaan Bahasa Lampung yg terdiri dari dua dialeg O dan A, tentu menunjukan antara 5000 - 3500 SM. terjadi beberapa gelombang migrasi penduduk, ada yang masuk dari pantai Barat Laut, ada yang masuk melalui pantai Timur, ada pula yang dari Utara (yang kemungkinan memasuki Sumatera yang berada di Wilayah utara Lampung. Berikutnya mereka yang dari barat menurunkan Masyarakat Lampung berpenutur Dialeg Api Belalaw, yang dari timur menurunkan masyarakat Lampung berpenutur dialeg Nyow seperti Abung, Tulang Bawang dan Melinting. Dan yang dari utara mnurunkan masyarakat Lampung berpenutur dialeg A Komering, Way Kanan, dan Daya.
Menhir dari Situs Canguk Gaccak
(Narasumber : Nanang Saptono)
Perkakas Batu Neolitikum
(Narasumber : Dido Zulkarnaein)
Lalu siapakah yang datang dari arah Ranau pada akhir abad 15 ?
Prof. P.J. Veth dalam penelitiannya pada abad 19 tentang orang Abung, disebutkan bahwa berdasarkan cerita tutur masyarakat Abung saat itu, Datu Dipuccak (salah seorang leluhur Abung Siwo Megou) berasal dari sebuah dusun bernama Sekalobiyah (bukan kerajaan), yang bermigrasi ke daerah Canguk Gaccak. Tetapi berdasarkan temuan Arkeologi yang dilakukan oleh Balai Arkeologi Bandung di Situs Canguk Gaccak menemukan bahwa pemukiman itu telah ditempati oleh masyarakat pendukung tradisi Megalitikum sejak ribuan tahun silam. Hal itu mengindikasi kembali bahwa jauh sebelum kedatangan Datu Dipuccak beserta pengikutnya pada akhir abad ke 15, di wilayah Situs Canguk Gaccak telah berdiri suatu peradaban Kuna yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dari adanya temuan berupa Dolmen, Menhir, Fitur Benteng Purba, serta Fragmen Keramik China Kuna dari Masa Dinasti Sung (abad 10 - 13 M) dan Yuan (abad 14 - 15 M). Temuan keramik asing ini menandakan masa dimulai perdagangan antara masyarakat Canguk Gaccak dengan Bangsa China Kuna.

Dolmen dari Situs Canguk Gaccak
dalam keadaan rusak
(Narasumber : Nanang Saptono)
Kedatangan Datu Dipuccak bersama pengikutnya di Canguk Gaccak bukan sebagai pendiri peradaban baru, melainkan mereka bermigrasi ke wilayah yang memiliki peradaban yang jauh lebih baik dan ramai. Dan peradaban kuno tersebut telah berlangsung sejak ribuan tahun sebelum masehi, jauh sebelum kedatangan Datu Dipuccak beserta rombongannya. Selain Canguk Gaccak masih terdapat beberapa situs pemukiman kuna di wilayah yang agak jauh dari lokasi tersebut seperti Benteng Majapahit dan Tangkit Sesudu yang dikeduanya ditemukan tinggalan-tinggalan purbakala dari masa Pra-Kelasik (sebelum hindu/Budha)

Mengingat cerita dari Skala Begrak dituturkan secara lisan turun temurun sedangkan perkembangan jaman membuat adanya pergeseran ataupun perubahan-perubahan, serta adanya migrasi dari beberapa klan ke daerah yang ternyata sudah berperadaban, tentu cerita tersebut tidak bisa dipertahankan keotentikannya.
Bagaimana dengan Pepadun yang dinyatakan berasal dari Pohon Melasa Kepampang yang merupakan sesembahan Suku Tumi yang ditebang sejalan dengan ekspansi 4 (empat) bersaudara dari Pagaruyung dalam rangka Islamisasi (versi lain).
Arca Pendharmaan Raja Mataram Kuna (abad ke 9 M)
Salah satu pepadun tertua yang saat ini berada di Nation Gallery Australia berdasarkan uji karbon diketahui dari awal abad ke 15 (awal 1400an) dan itu berarti lebih tua dari peristiwa dalam versi kedatangan 4 (empat) umpu dari Pagaruyung.

Pepadun Kuna
Koleksi Nation Gallery Australia
Pepadun yang terdapat di Nation Gallery Australia memiliki motif berupa Makara, Naga dan makhluk lain yang merupakan bagian dari mitologi kelasik yang sudah barang tentu tidak ada kaitannya dengan ajaran islam. Jika penebangan pohon Melasa Kepampang dilakukan sebagai upaya penghapusan apa yang disebut dalam ajaran islam sebagai kemusyrikan, maka sudah barang tentu motif-motif yang menggambarkan wujud makhluk terlebih itu makhluk mitologi seperti makara yang merupakan makhluk imajinatif tidak akan dipertahankan oleh masyarakat pada masa tersebut . Selain itu catatan asing dari abad ke 19 telah menyebutkan bahwa tradisi budaya irawan/mengayau/berburu kepala orang, kadang dilakukan sebagai bagian dari ritual cakak pepadun (dalam Lampung Tumbai). Ini semua mengindikasi bahwa tradisi pepadun adalah budaya masyarakat Canguk Gaccak sejak
Pepadun Kuna milik Suttan Jimat
asal Tulang Bawang (abad ke 18 M)
sebelum kedatangan Datu Dipuccak bersama dengan para rombongannya. Beberapa arca pendharmaan Raja Mataram Kuna memperlihatkan wujud seorang Raja yang sedang duduk pada lapik yang memiliki sandaran menyerupai bentuk Pepadun dan Sesako (Sandaran Pepadun). Dan pepadun yang dikatakan berasal dari Melasa Kepampang bukanlah yang tertua, melainkan hanya salah satu pepadun yang dibuat untuk melanjutkan tradisi pepadun yang sudah ada, dan itu hanya dikenal dalam budaya masyarakat Lampung beradat pepadun.

KESIMPULAN :
Hampir semua tinggalan Arkeologi baik berupa situs maupun artefak yang tersebar di Seluruh Penjuru Lampung membuktikan dengan sangat kuat bahwa leluhur masyarakat Lampung adalah masyarakat / Bangsa Proto-Austronesia yang telah menetap dan menyebar keseluruh penjuru tanah Lampung setidaknya sejak 5000SM, sedangkan masyarakat yang berasal dari Ranau/Sekalobiyah hanya beberapa klan dan mereka tidak membangun peradaban baru melainkan bermigrasi ke wilayah yang sudah memiliki peradaban yang lebih maju atau ramai. Sedangkan kisah pepadun yang berasal dari Melasa Kepampang tidak lebih dari Mitos belaka, karena pepadun telah ada sejak zaman kelasik (Hindu/Budha) dimana pepadun merupakan pengembangan dari dolmen dan menhir dalam tradisi "Megalitikum".
Pepadun Kuna asal Negara Batin
Kabupaten Way Kanan
(Koleksi Dido Zulkarnaein)


Acuan :
Sumber : Puslit Arkenas, Balai Arkeologi Bandung, Lampung Tumbai (Frieda Amran), Nation Gallery Australia, Museum Negeri Provinsi Lampung "ruwa Jurai", Taman Purbakala Pugung Raharjo Kab. Lampung Timur, E.EdwTds McKinnon, 1993, James T. Collins, 2005, William Marsden, 2008, Van der Hoop, 1949

Minak Dido Zulkarnaein
Penasehat Gamolan Institute




Kamis, 07 Mei 2015

Jung Penggambaran Aktivitas Pelayaran Masyarakat Lampung

Lebih dari 2000 tahun yang lalu, leluhur dari masyarakat Lampung Kuna telah berdagang sampai Negeri China, bahkan 400an tahun pertama di awal Masehi bangsa China telah mengakui ketangguhan mereka sebagai pelaut ulung.
Walaupun masa-masa kejayaan itu telah berlalu dan hampir dilupakan sama sekali oleh para sanak keturunannya, namun jejak-jejak peradaban tersebut masih terekam dengan baik pada berbagai benda budaya yang masih terawat dan lestari, menjadi bagian yang mewarnai dan memperkaya ragam khasanah budaya Masyarakat Lampung saat ini.

Tinggalan-tinggalan budaya tersebut terwakili dalam bentuk tekstil (kain kapal), mata pencaharian (nyesak punyew/ngunut iwa/ngawil), jukung kajang dan jung, termasuk juga sejumlah artefak yang mengindikasikan adanya aktivitas pelayaran masa lampau seperti keramik asing baik utuhan maupun fragmen (Keramik China mulai masa Dinasti Han sampai keramik Sukhotai dan Annam).

Minak Dido Zulkarnaein
Penasehat Gamolan Institute